Rabu, 16 April 2014

Anak Penderita Autis Akan Lebih Aktif dengan Hormon Cinta

Anak Penderita Autis Akan Lebih Aktif dengan Hormon Cinta


Unik Terkait: Seperti dilansir dari mashable.com, hormon cinta atau yang dalam bahasa ilmiahnya disebut dengan hormon oksitosin akan membuat anak penderita autis akan lebih aktif dalam berinteraksi sosial.

Lebih lanjut, oksitosin adalah hormon yang diproduksi di otak ketika manusia merasa senang. Hormon ini akan memudahkan manusia untuk berinteraksi secara sosial. Hormon ini juga dapat membuat manusia terikat secara emosional dan juga menimbulkan perasaan cinta kepada lingkungan di sekitarnya.

"Hormon oksitosin yang ada di otak dapat memudahkan anak autis untuk berinteraksi dengan lingkungan di sekitarnya. Walaupun hormon ini tidak mengubah keterampilan anak autis, tapi paling tidak hormon ini akan memudahkan mereka untuk melebur dengan lingkungan," jelas Ilanit Gordon, ahli syaraf di Yale University.

Penelitian yang melibatkan 17 anak-anak dan remaja penderita autis ini menggunakan semacam semprotan cairan. Cairan ini mampu meningkatkan produksi hormon oksitosin di dalam otak.




source: merdeka.com

Air Panas Dapat Membantu Meminimalisir Dampak Buruk Autisme.

Air Panas Dapat Membantu Meminimalisir Dampak Buruk Autisme.


Unik Terkait: Autis adalah gangguan kesehatan yang menyebabkan seseorang yang mengidapnya mengalami kesulitan dalam berkomunikasi dan bersosialisasi. Namun tidak banyak yang mengetahui secara pasti hal apakah yang menyebabkan seseorang menyandang autis.

Walaupun autis tidak dapat disembuhkan, namun serangkaian perawatan kesehatan dapat berfungsi untuk meminimalisir dampak buruk gangguan autis pada seseorang. Perawatan tersebut dapat berupa beberapa macam latihan berkomunikasi dan berinteraksi dengan lingkungan sekitar hingga pemberian obat-obatan medis yang dapat meminimalisir depresi dan perilaku hiperaktif yang biasanya dilakukan oleh penyandang autis.

Selain hal tersebut, baru-baru ini cbsnews.com melansir bahwa air panas dapat membantu meminimalisir dampak buruk autisme.

Penelitian yang dilakukan di Montefiore ini menyebutkan bahwa saat anak penyandang autis selesai berendam di dalam bak mandi yang berisi dengan air panas, perilaku hiperaktif dan depresi yang sering datang secara tiba-tiba menunjukkan perbaikan.

"Panas dari air yang digunakan untuk berendam mampu meningkatkan imunitas di dalam tubuh sehingga anak autis lebih mampu mengontrol emosi dan perilakunya. Selain itu air panas mampu menurunkan kadar peradangan di dalam tubuh anak autis," jelas Elaine Hsiao, seorang peneliti dari Caltech Pasedena, California.

Memang hingga saat ini autis tidak dapat disembuhkan secara menyeluruh. Namun dunia medis terus mengembangkan penemuan dan penelitian yang dapat memperbaiki sifat dan perilaku yang dimiliki oleh anak penyandang autis.




source: merdeka.com

Menurut Ahli, Cacing Parasit pun Bisa Meredakan Autism

Menurut Ahli, Cacing Parasit pun Bisa Meredakan Autism


Unik Terkait: Banyak upaya baru dilakukan ahli kesehatan untuk menyembuhkan kelainan autistik. Salah satu yang terbaru adalah dengan menggunakan cacing parasit.

Seperti dilansir oleh Mashable, para dokter dari sebuah klinik kecil di Amerika Serikat menggunakan penanganan yang berbeda saat berhadapan dengan pengidap keterbelakangan mental tersebut. Mereka melibatkan telur dari cacing parasit untuk memicu sinyal anti inflamasi di usus.

Dengan menggunakan penanganan macam ini, para ahli berharap bahwa suhu tubuh pengidap autis yang diberi cacing tersebut akan meningkat mirip dengan saat manusia mengidap infeksi cacing. Nantinya, hal ini bisa membuat pengidap autis kehilangan kebiasaan suka mengulang-ulang sesuatu dan beberapa gejala lainnya yang berhubungan dengan autisme.

"Dalam tiga studi yang dilakukan hasilnya menarik dan layak ditindaklanjuti namun belum diketahui atas dasar apa hal tersebut kemudian diterapkan dalam pengobatan di klinik tersebut," kata Dr. Andrew Adesman, kepala perkembangan dan kebiasaan anak di Pusat Kesehatan Steven & Alexandra Cohen Children, New York.

Autism spectrum disorder, atau ASD adalah kelompok kelainan yang menyerang perkembangan otak manusia yang mengakibatkan mereka kehilangan kemampuan sosial, bermasalah saat berkomunikasi, dan membuat pengidapnya melakukan hal yang sama berulang-ulang.

FDA atau BPOM-nya Amerika Serikat sendiri masih belum menyetujui penggunaan cacing dalam pengobatan autisme tersebut. Para peneliti yang klaim bahwa hal tersebut efektif harus terlebih dulu membuktikan bahwa cacing memang tepat digunakan untuk mengobati kelainan itu.

"Masih banyak yang harus dilakukan, namun hal ini setidaknya membuka satu lagi jalan untuk mengobati autisme," kata Dr. Eric Hollander, psikiater klinis dari Albert Einstein College of Medicine and Montefiore Medical Center.




source: merdeka.com

Cacing Cambuk Dipercaya Bisa Meredakan Gejala Autis

Cacing Cambuk Dipercaya Bisa Meredakan Gejala Autis


Unik Terkait: Selama ini cacing dianggap sebagai parasit yang berbahaya untuk tubuh. Namun sebuah penelitian mengungkap bahwa cacing bisa membantu meredakan gejala autis pada orang dewasa. Salah satu yang digunakan adalah cacing cambuk.

Setelah menelan 12 telur cacing cambuk selama 12 minggu, orang yang memiliki autisme cenderung lebih mudah beradaptasi dengan lingkungannya dan lebih mudah berkomunikasi, seperti dilansir oleh Dr Eric Hollander, direktur Autism and Obsessive Spectrum Program at Montefiore Medical Center.

"Kami menemukan bahwa orang tersebut merasa lebih mudah berkomunikasi dan mengendalikan emosi," ungkap Hollander.

Penelitian menggunakan cacing cambuk ini merupakan salah satu proyek yang dilakukan oleh Hollander. proyek lainnya adalah meredakan gejala autisme dengan mandi air hangat untuk anak-anak.

Sistem kekebalan tubuh yang terlalu aktif dan menyebabkan peradangan diketahui berkaitan dengan autisme. Penelitian percaya bahwa adanya cacing dalam tubuh bisa membantu mengontrol respon sistem kekebalan tubuh dan menurunkan tingkat peradangan seseorang.

Hasil mengenai cacing cambuk ini diketahui setelah peneliti mengamati 10 orang dewasa yang memiliki autisme. Mereka diminta untuk mengonsumsi 2500 telur cacing cambuk setiap dua minggu. Cacing tersebut diketahui tidak berbahaya bagi manusia.

Tubuh manusia sendiri selalu membersihkan sistem pencernaan dari cacing setiap dua minggu sekali, sehingga partisipan harus makan telur cacing lagi setiap dua minggu. Meski begitu, diperlukan penelitian yang lebih besar sebelum perawatan ini diterima dan mulai diterapkan secara umum.




source: merdeka.com

Pria Rentan Mengidap Autisme, Ini Alasannya

Pria Rentan Mengidap Autisme, Ini Alasannya


Unik Terkait: Autisme mungkin tampak tak pandang bulu ketika menyerang anak laki-laki atau perempuan. Namun sebuah penelitian terbaru mengungkap bahwa pria lebih rentan mengidap autisme dibandingkan dengan wanita. Tak hanya itu, peneliti juga berhasil mengungkap penyebabnya.

Penelitian yang diterbitkan dalam American Journal of Human Genetics ini menjelaskan bahwa anak perempuan bisa mengalami autisme jika mengalami mutasi genetik yang sangat ekstrem. Sementara itu, anak laki-laki tak memerlukan perubahan genetik yang cukup ekstrem untuk mengidap autisme.

"Ini adalah penelitian pertama yang meyakinkan untuk menunjukkan perbedaan tingkat molekular pada anak laki-laki dan perempuan, berkaitan dengan pertumbuhan dan kelainan yang mereka alami. Penelitian ini juga mengungkap bahwa ada perbedaan dalam hal pertumbuhan otak, di mana anak perempuan memiliki keuntungan daripada anak laki-laki," ungkap Dr Sebastian Jacquemont dari University Hospital of Lausanne di Swiss.

Sebelumnya penelitian menemukan bahwa anak laki-laki lebuh mudah mengalami kelainan hiperaktif (ADHD) dan autisme. sekitar 1,8 persen anak laki-laki mengalami autisme dibandingkan dengan hanya 0,2 persen dari anak perempuan. Namun peneliti belum mengetahui apa penyebabnya.

Dr Jacquemont dan rekannya Dr Evan Eichler dari University of Washington School of Medicine melakukan penelitian untuk mengetahui penyebab perbedaan tersebut. Mereka menganalisis contoh DNA dari 16.000 orang yang mengalami kelainan pada pertumbuhan otak serta sistem saraf pusat, serta 800 partisipan yang berasal dari keluarga dengan sejarah autisme.

Mereka menemukan bahwa anak perempuan yang memiliki autisme mengalami kerusakan gen yang lebih banyak dibandingkan anak laki-laki yang memiliki kelainan sama. Hal ini menunjukkan bahwa anak perempuan lebih sulit mengidap autisme karena mereka membutuhkan perubahan genetik yang lebih ekstrem dan rumit.

Hasil penelitian ini diharapkan bisa berujung pada pendekatan yang lebih spesifik dan disesuaikan dengan jenis kelamin ketika para dokter melakukan diagnosis terhadap orang yang mengidap autisme.




source: merdeka.com

Gadis Kecil Ini Kecanduan Makan Karpet dan Sofa

Gadis Kecil Ini Kecanduan Makan Karpet dan Sofa


Unik Terkait: Bicara tentang kecanduan, kebanyakan orang pasti memikirkan obat-obatan terlarang seperti ganja dan narkotika. Namun beda kasus dengan gadis kecil berusia empat tahun ini. Bocah bernama Charlotte Cook ini memiliki kecanduan aneh yang membuatnya tak bisa berhenti makan karpet dan sofa.

Charlotte diketahui menderita autisme dan memiliki penyakit bernama Pica yang membuatnya suka makan benda-benda aneh seperti karpet dan sofa. Biasanya dia suka mengunyah sofa, karpet dan mainannya untuk memuaskan keinginannya mengunyah.

Pica adalah penyakit yang gejalanya antara lain anak yang memiliki keinginan untuk makan beberapa hal yang tak wajar seperti es, material, tanah, pasir, dan kapur. Dokter sudah angkat tangan dan mengatakan bahwa mereka tak bisa mengobati penyakit Charlotte.


Gadis Kecil Ini Kecanduan Makan Karpet dan Sofa

Mainan Charlotte yang digigit dan dikunyah James Chapelard HEMEDIA

Sekitar 30 persen anak autis diketahui mengalami penyakit pica. Penyakit ini bisa menyebabkan anak tersedak, masalah pencernaan, dan infeksi parasit. Peneliti mengungkap bahwa kelainan ini bisa disebabkan oleh kekurangan mineral atau zat besi. Namun kelainan ini juga digolongkan pada penyakit psikologis.

"Ketakutan terbesarku adalah jika nanti penyakit itu bisa membunuhnya. Penyakit itu seperti kecanduan, dia harus melakukannya. Dia menggigit kain dari sofa dan langsung menelannya. Aku takut jika nanti benda-benda itu tersangkut dalam tubuhnya dan membunuhnya," ungkap Cook, orang tua Charlotte.

Tak hanya sofa, Charlotte juga mencoba makan benda-benda lain seperti bonekanya, remote televisi, dan kursi mobil. Masalahnya, gadis kecil itu sama sekali tak memahami kelainan yang dideritanya dan menganggapnya hal yang tidak berbahaya. Pada umur satu tahun, Charlotte bahkan sudah mencoba makan karpet.

Peneliti telah berusaha untuk menemukan solusi dari masalah yang tak biasa ini. Salah satu cara yang mereka tawarkan adalah meminta orang tua Charlotte menghilangkan semua benda yang terbuat dari kain di dalam rumahnya. Namun hingga saat ini, mereka tak benar-benar menemukan jalan keluar untuk mengobati si kecil Charlotte.




source: merdeka.com

Senin, 14 April 2014

6 Fakta Terkait Autisme yang Perlu untuk Diketahui

6 Fakta Terkait Autisme yang Perlu untuk Diketahui


Unik Terkait: Saat ini autisme sudah bukan hal yang asing didengar banyak orang. Meski begitu, tetap masih banyak mitos yang beredar mengenai autisme. Selain itu, tak sedikit orang yang belum mengetahui kebenaran tentang autisme ini.

Autisme memiliki banyak spektrum dan tak bisa disamakan satu sama lainnya. Untuk itu sangat penting memahami mengenai autisme. Di Hari Peduli Autisme ini, yuk simak beberapa fakta terkait autisme yang perlu untuk diketahui, 


1. Jumlah anak autis bertambah
Jika dibandingkan dengan tahun 1980-an, saat ini semakin banyak akan yang terdiagnosis memiliki autisme. Pada tahun 1980 jumlah anak yang terdiagnosis autisme adalah satu di antara 88 anak (11,3 per 1.000). Sementara itu saat ini risiko autisme meningkat hingga satu banding 68 anak dan satu banding 42 pada anak laki-laki.

Penelitian di California bahkan menemukan bahwa jumlah anak yang memiliki autisme pada tahun 1998 hingga 2002 meningkat hingga dua kali lipat. Meski begitu, peneliti menjelaskan bahwa sepuluh tahun lalu autisme tidak mudah didiagnosis sehingga kemungkinan banyak anak dengan autisme yang tak diketahui.


2. Autisme terdiagnosis lebih cepat
Dengan berkembangnya teknologi kesehatan, saat ini autisme terdiagnosis dengan lebih mudah dan cepat. Konon dokter masih tak bisa melakukan diagnosis autisme dengan tes medis atau laboratorium. Sehingga mereka hanya mengandalkan gejala secara perilaku pada anak. Hal ini memperlambat diagnosis karena autisme bisa tak terdeteksi hingga tahap lanjut. Peneliti menjelaskan bahwa autisme seharusnya sudah didiagnosis sejak anak berusia 3,5 tahun. Namun dulu kebanyakan anak terdiagnosis lebih dari usia tersebut.

Saat ini, autisme bahkan bisa dideteksi ketika anak berusia 24 bulan. Dokter bisa melakukan analisis menggunakan pemindai otak untuk melihat aktivitas otak anak autis yang tengah berkembang. Para ahli pun semakin waspada terhadap gejala autisme sehingga mereka lebih awas dan bisa melakukan diagnosis ketika anak berusia satu tahun.


3. Autisme adalah kelainan genetik
Konon autisme dianggap sebagai kesalahan orang tua dalam membesarkan anaknya. Namun kini sudah diketahui bahwa autisme tak disebabkan oleh faktor psikologis, melainkan bersifat genetik. Jika pasangan memiliki anak autis, kemungkinan anak mereka yang lain akan mengalami kelainan autis hingga lima sampai 10 persen.

Sementara itu, kemungkinan autis pada anak kembar bisa meningkat hingga 60 persen. Dengan fakta tersebut, peneliti percaya bahwa autisme adalah kelainan yang disebabkan oleh gen. Gen-gen tersebut menyebabkan otak bayi berkembang tak normal dan membuatnya rentan terkena autisme. Meski begitu, hingga kini gen yang diketahui berkaitan dengan autisme masih belum diketahui dengan jelas.


4. Tak ada kaitan antara vaksin dan autisme
Terdapat rumor yang mengungkap bahwa vaksin berkaitan dengan kemungkinan anak terkena autisme. Ada yang percaya bahwa jika tanda-tanda autisme anak terlihat setelah anak mendapatkan vaksin, kemungkinan penyebabnya adalah vaksin tersebut. Namun untuk asumsi ini peneliti tak bisa menemukan bukti yang kuat.

Selain itu terdapat juga rumor yang mengatakan bahwa autisme disebabkan oleh keracunan merkuri yang terdapat dalam vaksin pada bayi. Meski merkuri diketahui buruk untuk kesehatan otak balita, namun penelitian menunjukkan bahwa jumlah merkuri pada vaksin terlalu sedikit dan tak bisa mempengaruhi kesehatan saraf. 


5. Kepala besar adalah tanda autisme
Penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam Journal of the American Medical Association mengungkap bahwa otak anak autis berkembang dengan cara yang berbeda sejak usia dini. Peneliti menemukan bahwa kebanyakan anak yang didiagnosis autis memiliki lingkar kepala yang kecil saat dilahirkan. Namun ketika berusia enam sampai 14 bulan, kepala dan otak mereka akan lebih besar daripada ukuran anak normal.

Meski begitu, jangan panik ketika anak memiliki kepala yang lebih besar dari anak-anak biasanya. Beberapa bayi memiliki kepala yang lebih besar meski mereka tak memiliki autisme. Jika anak mengalami perkembangan kepala yang cukup drastis, coba untuk amati gejala autisme lainnya seperti kesulitan berperilaku atau berkomunikasi.


6. Perawatan dini sangat penting
Hingga saat ini belum diketahui obat yang bisa menyembuhkan autisme. Namun melakukan terapi dan latihan intensif sejak dini akan membantu anak autis untuk mempelajari banyak hal yang mereka butuhkan, mulai dari memperhatikan orang lain hingga berkomunikasi dengan mereka. Semakin cepat dilakukan perawatan, semakin baik.

Peneliti di National Academy of Science merekomendasikan anak autis untuk melakukan terapi 25 jam per minggu secepat mungkin setelah anak terdiagnosis autisme. Karena anak autis memiliki kemampuan dan perilaku yang berbeda. Perlu dilakukan pendekatan yang efektif untuk bisa mengembangkan kemampuan unik mereka secara optimal.

Selain fakta di atas, masih banyak misteri terkait autisme dan banyak hal yang belum diketahui faktanya. Meski begitu, peneliti terus berusaha memperdalam pemahaman mereka mengenai autisme. Fakta di atas tak hanya perlu diketahui oleh orang tua yang memiliki anak autis, namun juga semua orang agar mereka lebih mengetahui dan tak salah dalam melihat autisme.




source: http://www.merdeka.com/sehat/6-fakta-tentang-autisme-yang-harus-diketahui.html

Naftalan Spa, Mandi Minyak Mentah di Azerbaijan

Naftalan Spa, Mandi Minyak Mentah di Azerbaijan


Unik Terkait: Di kota Naftalan, Azerbaijan, sekitar 320 kilometer di sebelah barat laut dari ibukota Baku, ditemukan banyak minyak mentah yang sering digunakan untuk berendam.

Selama era Soviet, mandi minyak mentah sangat populer di Naftalan, yang biasa digunakan untuk menarik wisatawan dari seluruh Uni Soviet. Perawatan ini diyakini memiliki efek baik dalam mengobati masalah kulit seperti eksim, psoriasis, mengurangi nyeri sendi dan menenangkan saraf.


Naftalan Spa, Mandi Minyak Mentah di Azerbaijan


Puncaknya tahun 1980-an, Naftalan spa memiliki 75.000 pengunjung per tahun. Jumlah ini berkurang ketika perang pecah antara Azerbaijan dan etnis Armenia di Nagorno-Karabakh sekitar tahun 1988, dan banyak resor diubah menjadi kamp bagi para pengungsi. Setelah runtuhnya Uni Soviet, spa mandi minyak ditutup seluruhnya. Kemudian setelah hampir dua dekade, spa minyak mentah mulai dibuka lagi.


Naftalan Spa, Mandi Minyak Mentah di Azerbaijan


Menurut legenda, kafilah pedagang yang melewati daerah Naftalan terpaksa harus berhenti karena unta mereka sakit. Ajaibnya, setelah dibiarkan berendam di sebuah kubangan berlumpur di dekat danau, unta itu sembuh. Karena penasaran, para pedagang kembali untuk memeriksa danau itu.

Mereka menemukan cairan minyak berwarna hitam di bawah air danau yang berlumpur dan mulai memahami bahwa hewan mereka yang sakit disembuhkan oleh itu. Para pedagang kemudian melumuri tangan dan luka kaki mereka dengan minyak hitam tersebut dan yakin akan kekuatan penyembuhannya. Setelah itu, beberapa warga yang tinggal di desa-desa terdekat mulai menggunakan cairan ajaib itu sebagai obat.

Minyak mentah Naftalan berbeda dengan minyak bumi. Minyak mentah ini mengandung sekitar 50 persen naftalena, suatu hidrokarbon yang digunakan dalam kapur barus. Ini juga merupakan bahan aktif dalam sabun tar batubara, yang digunakan oleh ahli dermatologi untuk mengobati psoriasis. Meskipun Badan Nasional untuk Penelitian Kanker, sebuah badan pemerintah Amerika, mengklasifikasikan naftalena sebagai karsinogen, tidak ada yang menyimpulkan apakah mandi minyak mentah dapat memicu kanker minyak atau tidak.

Mandi minyak mentah biasanya berlangsung selama 10 menit di mana pengunjung berbaring telanjang di kolam berwarna hitam pekat sampai ke leher mereka. Untuk sekali mandi, pengunjung membutuhkan sekitar satu barel minyak mentah, dan setelah mandi, minyak itu akan dikembalikan ke tangki penyimpanan untuk digunakan lagi.




source: http://www.merdeka.com/gaya/tradisi-mandi-minyak-mentah-di-azerbaijan.html